Dewasa ini, banyak orang yang berusaha untuk menjadi orang yang bijak, “wise people”. Kondisi tersebut terlihat dari banyaknya orang yang menonton acara-acara motivasi yang dipenuhi oleh kalimat-kalimat bijak, seperti “Mario Teguh: golden ways”. Kalau tidak menonton, banyak juga yang membaca buku-buku motivasi yang telah menjamur di toko-toko buku Indonesia.
Namun, perlu diketahui bahwa menjadi orang bijak tidaklah semudah yang kita pikirkan. Kebijakan/Wisdom terdiri dari empat unsur, yakni:
- Ilmu
- Arif
- Benar
- Kehati-hatian
Jelaslah, bahwa orang bijak itu haruslah berilmu agar apa yang ia katakan tidaklah sekedar kata-kata manis yang menggugah hati tanpa dasar.
Orang yang berilmu saja belum bisa dikatakan orang bijak. Orang bijak jugalah harus arif. Kearifan merupakan unsur mutlak dari orang yang bijak. Arif artinya mengerti situasi yang sedang terjadi. Ia hanya akan mengatakan sesuatu di waktu, tempat, dan situasi yang tepat. Seperti kata pepatah “Wise man talk if they have something to say, While Fools talk if they have to say something”
Orang bijak juga harus menjunjung kebenaran. Dewasa ini, banyak orang yang salah mengartikan bijak, dimana bijak diartikan sebagai ketoleransian yang tinggi terhadap sesuatu, meskipun itu salah. Persepsi ini harus diubah.
Yang terakhir, orang bijak juga harus berhati-hati, baik dalam kata-kata ataupun tindakan. Mereka harus dapat menimbang baik-buruk dari apa yang akan ia lakukan.
Nah, kira-kira seperti itulah beberapa syarat dasar untuk menjadi bijak.